Sabang : Titik Nol Nusantara

Pernah ga sih kalian semua punya pendapat yang berbeda dengan ayah sendiri? Sampe cekcok? sampe bentak-bentakan? Kabur dari rumah?. Kalo kamu pernah sampe kabur dari rumah. Kita sama, tos dulu lah. Hahaha. Tapi ayah tetaplah ayah. Orang yang berjuang demi kamu siang malam. Ayah cuman satu coy. Ga bakal lebih. Semarah-marahnya dia juga bakal nerima maaf kamu. Oke kita hentikan celetukan-celetukan sentimentilnya.

Sehabis momen lebaran 2016 kemaren. Masih ada sisa hari libur dari kantor 4 hari lagi. Kesempatan ini tidak bisa dibiarkan dengan begitu saja. Akhirnya disuatu malam, keluarlah ide untuk mengajak ayah saya pergi berliburan. Hanya aku dan ayah. Kita berdua akan melakukan perjalanan yang berbeda. Anggap saja ini adalah proses permintaan maaf dan transfer ilmu dari ayah ke anak, agar si anak mampu menjadi pria yang lebih dewasa. Hahaha

Akhirnya ayahku setuju, kapan lagi jalan sama anak. Mumpung ayah masih kuat juga.

Mau kemana kita?, tanya si ayah.

“TITIK NOL Sabang YAH”, jawabku.

“Kenapa ke sana?”, tanya si ayah lagi

“Biar sama-sama 0 yah. Hahaha”, jawabku santai

“Oke, kapan?”, tanya si ayah

“Besok yah, kita naik bis aja”

“Oke, siap”.

Untuk mencapai Titik Nol Pulau Weh, kami terlebih dulu harus ke Banda Aceh. Perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh ditempuh selama 8 jam perjalanan darat. Dari medan kami menaiki Bis Sempati. Harganya Rp 225.000 per orang. Lumayan mahal karena ini bis Executive. Kami berangkat sekitar jam 4 sore, dan sampai di Banda Aceh jam 6 pagi.

Sesampainya di Terminal Banda Aceh, kita harus menuju Pelabuhan Ulee Lheu. Untuk mencapai Sabang, kita harus melewati jalur laut terlebih dahulu. Ada 2 alternatif penyebrangan menuju ke Sabang. Dengan menggunakan kapal cepat dan kapal feri biasa. Kami memilih untuk menggunakan kapal feri biasa saja. Maklum, ayah tak kuat goncangan kapal cepat. Hahaha. Perjalanan menggunakan kapal feri biasa ditempuh selama 1 jam. Tapi sebelum menyebrang, kami sempat mencoba kopi Ulee Kareng di salah satu kedai kopi di Pelabuhan Ulhee Lheu. Rasanya, hmmm. Ciamik.

img-20170111-wa0014

Kopi Ulee Kareng di salah satu kedai kopi di Pelabuhan Ulhee Lheu

Setelah 1 jam perjalanan, kami sampai di Pelabuhan Balong di Sabang. Titik Nol adalah titik paling barat Indonesia. Untuk mencapai Titik Nol, diperlukan perjalanan 1 jam lagi. Kami menyewa 1 mobil untuk membawa kami menuju kesana. Disini tak ada kendaraan umum. Hanya ada 2 pilihan. Naik ojek atau menyewa mobil. Dan akhirnya, sampailah kami di Titik Nol paling barat Indonesia. Hahaha.

13584034_625653374278154_1025129430_n

Tugu Nol Kilometer

Sambil makan mie rebus di sekitar Tugu Nol Kilometer, ayah banyak bercerita soal pengalamannya dalam mengarungi kehidupan. Hidup itu soal memilih. Pilihlah jalan yang bisa membahagiakan diri sendiri dan orang sekitar. Bermanfaatlah, karena manusia dinilai bukan dari apa yang dia punya. Melainkan dari manfaat apa yang ia berikan untuk orang-orang sekitarnya.

img-20170111-wa0012

Monumen Tugu Nol Kilometer Sabang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s