Me and Dad vs The World

Ada banyak hal yang didukung ayah tapi dilarang bunda. Apa hayo? Untuk keluarga saya. ada banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Modif motor tua, pulang malem karena kerja, dan mendaki gunung pastinya. hahaha. Berawal dari rasa penasaran ayah saya yang belum pernah menginjakkan kaki di puncaknya pulau Jawa. Kami mulai melakukan googling-googling tipis dan manis tentang informasi mengenai Gunung Semeru. Dan pada akhirnya, direntetan tanggal merah tahun 2016. Berangkatlah kami sekeluarga (tanpa bunda) menuju Gunung Semeru.

Perjalanan dimulai dari bandara Soekarno Hatta Jakarta, menuju bandara Juanda di Surabaya. Setelah itu baru kami menuju Malang dengan menggunakan bis carteran.  yang sudah diorder dari Jakarta. Sebenarnya bisa saja penerbangan langsung menuju Malang. Namun saat itu, jadwal penerbangan Jakarta-Malang masih belum fleksibel dan frekuensi penerbangannya masih sedikit. Enaknya jalan sama orang tua ya kayak gini nih. Glamour dan Safety, hahaha.

Butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan Surabaya – Pasar Tumpang (Malang). Sekedar info, biaya bis colt carteran (muat 12 orang), hanya Rp 1.500.000 dengan rute Surabaya – Tumpang, Tumpang – Surabaya. Jadi ga perlu repot-repot lagi. Pas turun gunung udah ada yang jemput. hehehe.

Pasar Tumpang bisa dibilang pos pertama untuk melakukan pendakian Gunung Semeru. Di daerah ini masih banyak ATM, alfa-indo mart, dan dekat dengan pasar. Pastikan semua perlengkapan dan perbendaharaan sandang pangan untuk mendaki anda disini. Sebab didaerah selanjutnya. Sudah mulai sulit mencari apapun.

Untuk pendakian ini, kami menggunakan jasa tour guide yang direkomendasikan teman saya @kakibandel . Ga cuman tour guide, mereka juga membantu saya melakukan estimasi biaya perjalanan, mempersiapkan kendaraan Jeep menuju pos pendakian gunung Semeru (Ranupane), perijinan naik gunung, perlengkapan mendaki seperti: tenda, alat masak, google mendaki, dll. Oh ya, untuk mendapatkan izin mendaki. Jangan lupa membawa fotokopi KTP, dan surat keterangan sehat. Bila anda lupa mengurus surat keterangan sehat di daerah asal anda. Di Tumpang ada banyak puskesmas yang bisa membantu anda.

DSCN2359

Proses Pemeriksaan di Puskesmas Tumpang

Setelah semua perlengkapan dan persyaratan untuk mendaki siap, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Ranupane. Ranupane adalah desa terakhir sebelum kita melakukan pendakian. Disinilah gerbang pendakian gunung Semeru. Sebelum mendaki, kami mendapatkan pengarahan mengenai pendakian di Gunung Semeru. “Tujuan kita bukanlah puncak, tujuan kita adalah pulang ke rumah”, begitulah kata-kata terkahir dari pemateri.

Selesai briefing kami langsung tancap gas mendaki semeru. Ada beberapa alternatif dalam menentukan rute pendakian. Bagi anda yang punya stamina lebih macem Hulk, anda bisa mengambil jalur Ranupane – Kalimati – Mahameru. Karena ini adalah pendakian bersama keluarga, maka rute yang kami ambil adalah rute normal yang biasa orang lalui. Ranupane – Ranu Kumbolo – Kalimati – Mahameru.

Rute Pendakian Semeru

Referensi Rute Pendakian Semeru

Ranupane – Ranukumbolo

Kami memulai pendakian sekitar jam 5 sore. Estimasi untuk sampai ke Ranukumbolo sekitar jam 9 malam. Cukup asik mendaki di malam hari. Seenggaknya tanjakan-tanjakan yang bikin gigit jari gak kelihatan. Lumayan menaikan mental. Rute Ranupane – Ranukumbolo bisa dibilang masih normal. Ga banyak tanjakan dan turunan yang menguras energi. Tapi tetap waspada, karena ada beberapa jalan yang mepet sama jurang. Just follow the path.

Sekitar jam 10 kami sudah sampai di Ranukumbolo. Terlambat 1 jam dari prediksi tour guide kami. Maklum saja, saat di perjalanan. Ada banyak pemberhentian-pemberhentian untuk melemaskan kaki. hahaha. Sampai di Ranukumbolo, tenda sudah dibangun. Makanan sudah tersedia. Waaahhh, inilah salah satu keunggulan menggunakan jasa tour guide. diservis abis. Tinggal bawa badan ajah. hahahaha. Kami menginap di Ranukumbolo dan akan melanjutkan kembali pendakian besok pagi. Katanya pagi di Ranukumbolo sangat ciamik. Sayang sekali untuk dilewatkan.

DSCN2649

Suasana pagi di Ranukumbolo.

Ranukumbolo – Kalimati

Perjalanan dimulai dengan melewati tanjakan cinta, lalu menyelusuri kebun bunga ungu yaitu Oro-oro Ombo. Menurut prediksi sang tour guide, perjalanan ke Kalimati ditempuh dengan waktu 5 – 6 Jam. Ranukumbolo – Oro-oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan – Kalimati. Jadi pastikan anda membawa persediaan air dari danau Kumbolo yang cukup karena di sepanjang perjalanan tidak sumber air.

Jam 4 sore kami sudah sampai di Kalimati. Seperti biasa, tenda dan makanan sudah tersedia. hahaha. Tour guide kami menyarankan, setelah makan kami langsung istirahat. Karena medan menuju mahameru sangat berbeda dengan yang selama ini sudah kami lalui. Kita akan dipaksa untuk mendaki tanjakan pasir yang curam selama 3 Jam.

DCIM100GOPROGOPR0576.

Pos Kalimati.

Kalimati – Mahameru

Sekitar jam 11 Malam kami dibangunkan oleh tour guide kami. Sudah saatnya mendaki puncak Mahameru. Kami diminta untuk membawa barang yang penting dan mendukung pendakian saja. Sisanya ditinggalkan di tenda. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan kami ke puncak. Butuh waktu sekitar 4 jam mendaki. Kalimati – Arcopodo – Cemoro Tunggal (Batas Vegetasi) – Mahameru.

Mahameru

Setelah mendaki selama 5 Jam. Akhirnya sampailah kami di Mahameru. Puncak tertinggi di pulau Jawa. Sekeluarga. Wehehehe. Sebuah kepuasan tersendiri bisa kesini dengan ayah saya.

13150965_107438963003925_1998196750_n

Me and Dad vs The World.

 

Komodo, Let’s Go

Pernah dengar soal Pulau Komodo? Pulau Eksotis yang faktanya merupakan habitat asli bagi hewan endemik Komodo yang ga bakal bisa ditemukan dimanapun kecuali di Indonesia. The one and only, Komodo Island. Selain menjadi tempat bermukimnya Komodo, Pulau Komodo ini juga memiliki pantai-pantai yang indah, dan pemandangan bawah laut yang gila seada-adanya. Beragam biota laut yang masih tetap terjaga kelestariannya menjadi penghuni laut di Pulau Komodo. Di kawasan ini terdapat setidaknya lebih dari 253 spesies karang pembentuk terumbu,  70 spesies sponge, dan  lebih dari 1.000 spesies ikan. Di kawasan laut Pulau Komodo, hidup berbagai jenis hewan laut langka yang sangat jarang ditemukan di dunia, seperti: dugong, hiu, 14 jenis paus, lumba-lumba, dan beberapa jenis kura-kura. Sayang sekali, dalam hidup kita yang cuman sekali. Kita ga pernah nyobain ke pulau ini. Komodo, Let’s go.

Perjalanan ke Komodo dimulai dari mencari tiket pesawat yang murah meriah. Tapi sangat disayangkan. Tiket kesana ga ada yang murah. Saya dan ketiga teman saya kemudian memutar otak. Dan akhirnya kami mendapatkan ide memecah rute perjalanan kami agar pas dengan budget liburan. hehehehe. Dari Jakarta kita terbang menuju Lombok, dan dari Lombok kami akan melanjutkan perjalanan ke Komodo menggunakan jalur darat (Bis). Setelah semua setuju, kita pun berangkat.

Sesampainya di Bandara Lombok, kami melanjutkan perjalanan ke Terminal Mandalika yang ada di Lombok. Sampai disana seperti biasa. Puluhan calo langsung mendekat dan memberi penawaran. Tapi untung saja kami berempat sudah membelinya di agen terdekat. Jadi tinggal naik saja ke bis dan duduk dengan tenang. Tujuan pertama kita adalah Kabupaten Bima yang ada di ujung Sumbawa sana. Sebelum itu kita mesti menyebrang dari Pelabuhan Kayangan yang ada di Lombok untuk mencapai Sumbawa. Setelah itu naik minibus menuju Pelabuhan Sape. Dan menyebrang dengan fery menuju Labuan Bajo. Bis menuju Bima, Sumbawa berharga 150 ribu rupiah. Sudah kumplit dengan tempat duduk yang nyaman dan AC serta kamar mandi di dalam bis. Namun kamar mandi disini sangat sulit sekali digunakan. Sebab sempit dan bakal selalu bergoyang. Hingga tak fokus dan menyebabkan pancuran air seni kemana-mana. Maklum supirnya ganas, jalanan pun berkelok-kelok.

Setelah sampai di ujung Lombok, tepatnya di Pelabuhan Kayangan. Semua penumpang bakal disuruh turun dari bis. Bawa barang-barang berharga anda bersama dengan anda. Perjalanan dari Kayangan menuju Sumbawa paling cepat adalah satu jam. Diatas sini banyak sekali para pengamen. Mulai dari mereka yang menyanyikan lagu Lombok I Love You. Lagu yang dibuat Steven n coconut trezz untuk mengapresiasi keindahan Lombok Sampai lagu wali Aku Bukan Bang Toyib.

Shubuh hari kita sudah sampai di Bima. Turun bis semua penumpang sudah langsung di serbu para calo. Ada yang menawarkan transport ojek. Cidomo (Becak kuda a.ka andong). Tapi jangan khawatir. Disekitar situ sudah ada mini bus yang nangkring menuju Pelabuhan Sape. Nama maskapai pemberangkatannya sama persis dengan bus besar yang mengantarkan kita ke sini. Hampiri keneknya dan negosiasi. Dia buka harga 20 ribu tawar saja 15 ribu sambil bawa embel-embel mahasiswa. Dia mengiyakan dan kita berempast siap berangkat menuju Pelabuhan Sape. Dari Bima ke Pelabuhan Sape sekitar 3 jam

Sampai Pelabuhan Sape tak banyak calo. Cukup kondusif dan aman. Segera beli tiket penyebrangan ke Labuan Bajo. Karena kapal fery ke sana hanya ada sehari sekali. Harga tiketnya 46 ribu. Perjalanan ke Labuan Bajo akan memakan waktu 8 jam. Jadi usahakan sarapan di Sape. Disini banyak warung-warung nasi. Sebab di atas kapal, harga-harganya akan melambung tinggi 2 kali lipat dari biasanya.

Sebelum merapat ke Labuan Bajo. Bermodalkan nekad dan aksi-aksi sok akrab. Akhirnya kami mendapatkan rekomendasi penginapan dari seorang kawan. Namanya Bang Daniel. Secara kasat mata umurnya sekitar 40 tahunan. Namun ia tak mau dikata om. Panggil dia abang. Bang Daniel ini adalah pelatih bela diri untuk para tentara yang ada di Ende, NTT. Mangkanya, waktu pas turun dari kapal fery. Sudah ada orang yang menjemputnya. Ia mengantarkan kami menuju sebuah penginapan bernama Kharisma. Sekilas gedung 2 tingkat ini seperti restoran. Memang ia restoran dilantai bawahnya. Tapi lantai 2 mereka sihir menjadi penginapan 6 kamar. Dengan 1 kamar mandi luar. Harganya juga cukup terjangkau 35 ribu untuk sehari menginap. Fasilitasnya ada kasur kapuk cukup untuk 2 orang. Dan sebuah kipas angin. Penginapan ini sangat dekat dengan pelabuah kapal fery. Dan juga sangat dekat dengan pelabuhan kapal-kapal nelayan yang bakal disewakan untuk berpetualang ke Pulau-pulau gokil yang ada di sekitar Labuan Bajo. Termasuk Pulau Rinca, Pulau Komodo, Pulau Bidadari, dan banyak lagi.

285075_2121965300886_7483623_n

Pulau-pulau kecil yang bisa kita lihat saat perjalanan menuju Labuan Bajo

Hari itu sudah sore hari. Dan pemilik penginapan menyarankan kita untuk cepat-cepat menyewa kapal sebelum malam. Biar besok pagi sudah langsung bisa berangkat. Setelah berbenah diri kami pun langsung menuju Pelabuhan penyewa kapal. Kata pemilik penginapan yang mangkal di paling kiri adalah deretan kapal-kapal murah. Ada 3 pangkalan disitu. Langsung  kami menghampiri deretan kapal murah. Seketika ada yang menghampiri kami. Seorang yang menyebut dirinya captain. Setelah banyak bertanya-tanya ia langsung pasang harga 1,2 juta untuk pelayaran full day ke pulau Komodo dan Pink Beach. Wait, What? Penawaran langsung menjadi alot. Tapi ia tetap bersikukuh, Ia lalu mengalihkan penawaran ke temannya. Temannya mau menerima tawaran kami sebelumnya 1 juta untuk pelayaran Full day ke Pulau Komodo dan Pink Beach. Deal, setelah itu kami langsung bertukar nomer hape. Namanya Bang Yadin. Orangnya asik dan bersahaja.

184170_2121942180308_4758796_n

Sore di Labuan Bajo

Jam 8 teng kapal berangkat menuju komodo. Bang Yadin sering menyarankan agar kita pergi ke Pulau Rinca saja. Sebab jalan ke Pulau Komodo ombaknya sedang tidak bersahabat. Harus pakai speedboat kalo mau aman menuju kesana. Butuh 4 jam menuju komodo. Disepanjang jalan banyak pulau pulau kecil berpenduduk maupun tidak. Yang jelas setiap pulau punya pantai yang bagus atau karang-karang yang mengagumkan. Belum sampai setengah perjalanan kita sudah dihantam ombak-ombak besar. Awalnya sih santai. Cuman makin lama makin ganas sampai-sampai hempasan ombak masuk ke kapal dan memandikan kita. Dan akhirnya kami menyerah. Sebelum kapal terbalik dan menewaskan kami yang tak ahli betul berenang ditengah laut. Kami mengubah rute perjalanan kami. Melihat-lihat Komodo dan habitatnya di Pulau Rinca. Dan menikmati snorkling ajib di pulau Bidadari. Penawaran yang bagus juga. Dengan harga yang sama.

291862_2309462305435_2988626_n

Dermaga Pintu Masuk Pulau Rinca

Sampai di Pulau Rinca. Masuk dikenakan biaya 10 ribu rupiah saja. Ada satu ranger a.ka pawang yang akan menemani kita. Untuk pembayaran pawang beda lagi ceritanya. Jadi siapkan uang lebih coy. Pawang akan dipersenjatai dengan tongkat panjang bercabang dua di ujungnya. Komodo sangat takut dengan tongkat bercabang. Ada pilihan jalur track yang ditawarkan sang pawang. Biasanya bule-bule mintanya track 5 jam. Tapi mumpung kita tak lama juga. Kita memilih track 1,5 jam saja. Masuk jalur track kita sudah disambut oleh 5 komodo yang sedang berebut daging di pos dapure penjaga. Widihhhh, melihat langsung binatang ini hukumnya adalah fardhu ain hukumnya. Sangar, beringas, kejam, elegan. Perawakannya malas. Cuman jika ada mangsa. Gerakannya secepat kilat menyambarnya. Ia tak punya bisa cuman bakteri yang bersatu dengan air liurnya. Biasanya berat, Komodo berkisar diantara 70 kilogram. Ukuran paling besar untuk spesies kadal yang ada di Dunia. Sisik-sisik komodo, beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang. Memiliki sensor yang terhubung dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di sekitar telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih. Jadi yang sedang haid jangan terlalu dekat dengan habitat Komodo.

263292_2121971181033_7719066_n

Komodo National Park

Reptil besar ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak yang pendek. Berenang dengan sangat baik dan mampu menyelam sedalam 4.5 meter. Komodo adalah binatang karnivora sekaligus kanibal. Kadang ia memakan saudaranya sendiri yang sudah lemah atau yang sudah mati. Puas melihat Komodo kita langsung melanjutkan tracking yang belum rampung. Selama perjalanan kita bisa melihat kerbau liar yang tubuhnya sangat besar sekali. Sebesar truck hino sodara-sodara. Tanduknya saja sangat besar dengan ujung yang runcing. Jangan ganggu ia, sebab ia masih sangat liar. Salah sedikit anda bisa diseruduk dan seketika tewas.

262447_2310051360161_3817736_n

Pos Komodo

292659_2121979101231_1917845_n

Komodo

Setelah melewati bagian yang berhutan lebat sampailah kita di hutan tandus. Hanya ada rumput-rumput liar. Dan tanah yang gersang dan panas. Jalanan menanjak ke atas dan berbatu-batu. Hati-ati saat melangkah, sebab jika jatuh akan langsung jatuh terpelanting sampai ke bawah. Kelelahan terbayar sudah saat kita sampai di puncak bukit. Ada 3 danau yang bisa kita lihat disana. Tapi percayalah, itu bukan danau. Itu adalah selat yang menghubungkan pulau-pulau di sekitar pulau Rinca. Karena pulaupulau tersebut begitu rapat. Dan posisi kita melihat cukup jauh. Jadilah terlihat pemandangan 3 danau yang indah.

263218_2121990341512_6475109_n

Suasana Trecking Pulau Komodo

Setelah itu kita langsung menuju ke bawah dan pulang. Bang Yadin sudah menanti di dekat kapal. Sepanjang perjalanan dialah yang menjadi tukang ambil foto kami. Selepas menelusuri pulau Rinca kita lalu menuju Pulau Bidadari. Keindahan karang-karang di daerah ini sudah terkenal sampai manca negara. Surganya snorkling. Kapal yang berlabuh tak boleh terlalu dekat dengan pantai. Takutnya bisa merusak atau tertabrak karang. Nelayan dilarang keras menangkap ikan apalagi merusak terumbu karang disini. Kami yang sudah menyiapkan alat snorkling langsung berganti baju.

Ada surga di bawah sini. Karangnya masih menjulang tinggi dan sangat alami. Warnanya juga bervariasi. Hati-hati saja, jangan sampai tubuh anda terbentur karena karangnya begitu dekat. Hewan-hewan yang ada disini juga sangat beragam. Seperti menonton film Finding Nemo saja. Tapi versi realnya. Kalo diumpamakan dengan liga itali bisa dibilang view ini bukan siaran Video Streaming. Ada ikan badut yang sedang bergerombolan, ikan tembus pandang, ikan pelangi. Bahkan pemangsa air berbentuk ulat yang bersembunyi di dasar tanah.

294624_2121961940802_94242_n

Sudah jam setengah 6. Dan semuanya terbalas dengan sunset yang kita lihat saat menuju jalan pulang Ke Labuan Bajo. Sungguh indah daerah ini. Dan masih banyak lagi tempat yang belum kita jamah keindahannya karena keterbatasan dana. Hahaha. Malam terakhir kita habiskan dengan mencoba kuliner Labuan Bajo. Adalah Ikan Katamba Bakar yang bakal kita cicipin. Tempatnya tak jauh dari pelabuhan masih disekitar jalan utama di Labuan Bajo. Tempat ini adalah rekomendasi dari bang yadin. Kapten kapal yang membawa kita ke Pulau Rinca tadi pagi. Satu porsinya adalah 50 ribu rupiah. Udah termasuk nasi dan kobokan. Hmmmmm, aromanya nusuk banget dah dan setelah 20 menit menunggu. Akhirnya Ikan Katamba ini disajikan ke hadapan kita. Kulit luarnya tebal dan licin. Tapi dibalik itu, ada daging segar nan lezat dan harum. Olahan asli anak kampung sini. Bumbunya meresap. Dipadu sambal kecap. Beuuuhhhh, maknyosss. Tak ada bau amis, beda banget sama ikan yang dijual di warteg dah. Hahahaha. Setelah makan kita pulang. Istirahat yang cukup karena besok kami harus kembali ke Lombok lagi. Semoga dilain kesempatan ada kesempatan lagi menginjakan kaki disini lagi.

Bulukumba Adalah Surga

Coba dilihat-lihat dulu kalendernya kawan-kawan. Bila ada tanggal-tanggal mepet sekitar 4 hari untuk liburan. Dan bila kamu adalah seorang beach lover yang haus akan kejernihan air laut dan suara-suara ombak yang menciptakan lamunan-lamunan akan kebebasan, Saya sarankan kamu untuk mencoba traveling ke Pantai Tanjung Bira di Bulukumba.

Untuk mencapai Bulukumba, kamu terlebih dahulu harus menuju kota Makassar. Jangan lupa luangkan waktu seenggaknya 1 hari untuk menikmati kota ini. Ada banyak destinasi wisata di Kota ini, mulai dari Museum La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, dan Pantai Losari. Cobain juga Pisang Epe dan Sop Konro yang merupakan makanan khas Makassar. Kan sayang tuh, udah sampe ke Makassar coy. Hahaha.

13298117_1744397635844806_2002897215_n

Oke, balik ke gimana caranya nyampe Bulukumba. Perjalanan dari Makassar ke Bulukumba ditempuh sekitar 4 ½ jam dengan menggunakan jalur darat. Kamu bisa memilih alternatif bis atau angkutan mobil pribadi yang dijadikan angkutan umum di Terminal Mallengkeri. Karena angkutan mobil pribadi jam berangkatnya lebih fleksibel. Saya memilih angkutan tersebut.

1

Ini dia mobilnya nih, kuota 8 orang disikat 12 orang

Setelah melewati perjalanan yang cukup berkelok-kelok. Sampailah saya di Terminal Bulukumba. Butuh sekitar 1 jam perjalanan lagi menggunakan bis untuk menuju pintu masuk Pantai Tanjung Bira dan naik ojek sekali untuk sampai di Penginapan yang berada di kawasan Pantai Tanjung Bira. Tenang, semua harga transport masih terjangkau. Pasang muka polos dan senyum pak Pedo ajah. Hahaha. Dan inilah Tanjung Bira dengan segala kenikmatannya.

3

Pantai Tanjung Bira

Selain Pantai Tanjung Bira, ada 2 destinasi lagi yang bisa dinikmati di kawasan Pantai Tanjung Bira ini. Ada Pulau Liukang yang ada di seberang Pantai Tanjung Bira. Hanya butuh 15 menit menyebrang dengan menggunakan perahu nelayan dan ada Desa Pembuat Kapal Pinisi. Uhuy.

5

Area Snorkling Liukang Island

20151227_112256

Dermaga Liukang Island

20151227_135002

Workshop Kapal Pinisi Desa Bulukumba

Sabang : Titik Nol Nusantara

Pernah ga sih kalian semua punya pendapat yang berbeda dengan ayah sendiri? Sampe cekcok? sampe bentak-bentakan? Kabur dari rumah?. Kalo kamu pernah sampe kabur dari rumah. Kita sama, tos dulu lah. Hahaha. Tapi ayah tetaplah ayah. Orang yang berjuang demi kamu siang malam. Ayah cuman satu coy. Ga bakal lebih. Semarah-marahnya dia juga bakal nerima maaf kamu. Oke kita hentikan celetukan-celetukan sentimentilnya.

Sehabis momen lebaran 2016 kemaren. Masih ada sisa hari libur dari kantor 4 hari lagi. Kesempatan ini tidak bisa dibiarkan dengan begitu saja. Akhirnya disuatu malam, keluarlah ide untuk mengajak ayah saya pergi berliburan. Hanya aku dan ayah. Kita berdua akan melakukan perjalanan yang berbeda. Anggap saja ini adalah proses permintaan maaf dan transfer ilmu dari ayah ke anak, agar si anak mampu menjadi pria yang lebih dewasa. Hahaha

Akhirnya ayahku setuju, kapan lagi jalan sama anak. Mumpung ayah masih kuat juga.

Mau kemana kita?, tanya si ayah.

“TITIK NOL Sabang YAH”, jawabku.

“Kenapa ke sana?”, tanya si ayah lagi

“Biar sama-sama 0 yah. Hahaha”, jawabku santai

“Oke, kapan?”, tanya si ayah

“Besok yah, kita naik bis aja”

“Oke, siap”.

Untuk mencapai Titik Nol Pulau Weh, kami terlebih dulu harus ke Banda Aceh. Perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh ditempuh selama 8 jam perjalanan darat. Dari medan kami menaiki Bis Sempati. Harganya Rp 225.000 per orang. Lumayan mahal karena ini bis Executive. Kami berangkat sekitar jam 4 sore, dan sampai di Banda Aceh jam 6 pagi.

Sesampainya di Terminal Banda Aceh, kita harus menuju Pelabuhan Ulee Lheu. Untuk mencapai Sabang, kita harus melewati jalur laut terlebih dahulu. Ada 2 alternatif penyebrangan menuju ke Sabang. Dengan menggunakan kapal cepat dan kapal feri biasa. Kami memilih untuk menggunakan kapal feri biasa saja. Maklum, ayah tak kuat goncangan kapal cepat. Hahaha. Perjalanan menggunakan kapal feri biasa ditempuh selama 1 jam. Tapi sebelum menyebrang, kami sempat mencoba kopi Ulee Kareng di salah satu kedai kopi di Pelabuhan Ulhee Lheu. Rasanya, hmmm. Ciamik.

img-20170111-wa0014

Kopi Ulee Kareng di salah satu kedai kopi di Pelabuhan Ulhee Lheu

Setelah 1 jam perjalanan, kami sampai di Pelabuhan Balong di Sabang. Titik Nol adalah titik paling barat Indonesia. Untuk mencapai Titik Nol, diperlukan perjalanan 1 jam lagi. Kami menyewa 1 mobil untuk membawa kami menuju kesana. Disini tak ada kendaraan umum. Hanya ada 2 pilihan. Naik ojek atau menyewa mobil. Dan akhirnya, sampailah kami di Titik Nol paling barat Indonesia. Hahaha.

13584034_625653374278154_1025129430_n

Tugu Nol Kilometer

Sambil makan mie rebus di sekitar Tugu Nol Kilometer, ayah banyak bercerita soal pengalamannya dalam mengarungi kehidupan. Hidup itu soal memilih. Pilihlah jalan yang bisa membahagiakan diri sendiri dan orang sekitar. Bermanfaatlah, karena manusia dinilai bukan dari apa yang dia punya. Melainkan dari manfaat apa yang ia berikan untuk orang-orang sekitarnya.

img-20170111-wa0012

Monumen Tugu Nol Kilometer Sabang

Kejar Daku Sampai Tangkahan

Alhamdulillah banget nih, moment lebaran taun 2016 kemaren, dapet kesempatan dari kantor buat pulang kampung ke Medan. Uhuy. Udah mudik dapet THR lagi. Uhuy..uhuy. Trus tiket pesawatnya dibeliin lagi. Uhuy..uhuy..uhuy. Waktu itu saya dapet kesempatan mudik H-4 lebaran. Pulang kampung kali ini saya bertekad untuk membuat suatu perubahan. kudu ada yang beda tahun ini. Yah, biasanya dirumah doang duduk duduk nunggu beduk, eh besoknya lebaran. Sekarang harus lebih beda. Sebelum lebaran datang, saya harus liburan. Liburan pokoknya liburan. Karena saat moment lebaran, liburan ga bakal berasa. Karena tempat wisata pasti ramai sejadi-jadinya. Gausah pake flashback deh yak. Tar kaya sinetron Indonesia.

Oke, Tujuan saya adalah Tangkahan. Why Tangkahan why? Berawal dari liat-liat instagramnya bang Nicholas Saputra yang pernah ngepost lagi ada di Tangkahan. Saya dan seorang mantan sangat penasaran dan ingin sekali kesana. Tapi apalah daya, sebelum keinginan ini tercapai. Kita sudah keburu berpisah. Eaaa. Tapi ya gapapa, rasa penasaran terhadap Tangkahan tetap berkobar didalam jiwa.

Awalnya saya coba buat ajak teman-teman kampung saya. Ga ada yang mau. Tar lagi lebaran kata mereka. Saya ajak temen SD dulu, sepik-sepik reunian juga sama. Ga ada yang mau. Tar lagi lebaran. Ah, yasudahlah. Berbekal prinsip dari abang Candil Seurieus bahwa “Sendiri Itu Indah”. Saya jalan sendirian ke Tangkahan. H-2 sebelum lebaran. Saat orang lagi sibuk-sibuknya bikin ketupat. Maap mak, kan udah ada adek-adek yang bantu di rumah.

Saya berangkat naik motor. Karena lumayan sulit mencari kendaraan umum kesana. Belum ada Trayeknya. Biasanya orang-orang luar kota lebih memilih carter mobil untuk diantarkan kesana. Harganya lumayan, berkisar 600 ribu untuk pulang pergi Medan – Tangkahan. Tapi harga bisa saja berubah loh ya, tergantung toko sebelah buka harga berapa. Hahaha. Berdasarkan informasi dari google maps. Untuk mencapai kesana, kita membutuhkan waktu 3 jam. Namun dikarenakan jalanan yg masih dalam proses perbaikan. Ditambah lagi motor keluaran tahun 2007 yang sudah uzur. Alhasil butuh waktu 4 ½ jam untuk mencapai kawasan ini.

13557014_1736808446576427_587983674_n-1

13525488_244464155940762_2049332042_n

Tangkahan adalah sebuah kawasan di Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Diapit oleh Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Tangkahan merupakan titik temu antara 2 sungai, yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan. Daerah ini juga memiliki vegetasi hutan hujan tropis yang masih asri banget. Plus ada konservasi Gajah disini. Beuhh, ciamik. Syekalii.

13597632_1157236487632769_1743897758_n

Sesampainya disana anda harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Saat registrasi, anda akan dijelaskan sedikit mengenai Tangkahan dan apa saja yang bisa dinikmati di Tangkahan. Tersedia juga jasa guide yang siap membantu anda menuntun dan menemani berekreasi, serta menjadi orang yang siap diminta tolong untuk memfoto setiap aktifitas anda.

13573570_115951628837467_1401665331_n

Nah, yang mau nyobain main ke Tangkahan, hubungi aja nih mantan guide saya. Namanya Bang Doy (081365774375). Servisnya ciamik. Baik pula, bisa bahasa Inggris pula. No tipu tipu dah. Kalo mau dijemput dari bandara telpon aja Bang Doy. Janjian kapan. Tar dijemput. Asik kan?