Me and Dad vs The World

Ada banyak hal yang didukung ayah tapi dilarang bunda. Apa hayo? Untuk keluarga saya. ada banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Modif motor tua, pulang malem karena kerja, dan mendaki gunung pastinya. hahaha. Berawal dari rasa penasaran ayah saya yang belum pernah menginjakkan kaki di puncaknya pulau Jawa. Kami mulai melakukan googling-googling tipis dan manis tentang informasi mengenai Gunung Semeru. Dan pada akhirnya, direntetan tanggal merah tahun 2016. Berangkatlah kami sekeluarga (tanpa bunda) menuju Gunung Semeru.

Perjalanan dimulai dari bandara Soekarno Hatta Jakarta, menuju bandara Juanda di Surabaya. Setelah itu baru kami menuju Malang dengan menggunakan bis carteran.  yang sudah diorder dari Jakarta. Sebenarnya bisa saja penerbangan langsung menuju Malang. Namun saat itu, jadwal penerbangan Jakarta-Malang masih belum fleksibel dan frekuensi penerbangannya masih sedikit. Enaknya jalan sama orang tua ya kayak gini nih. Glamour dan Safety, hahaha.

Butuh waktu sekitar 3 jam untuk perjalanan Surabaya – Pasar Tumpang (Malang). Sekedar info, biaya bis colt carteran (muat 12 orang), hanya Rp 1.500.000 dengan rute Surabaya – Tumpang, Tumpang – Surabaya. Jadi ga perlu repot-repot lagi. Pas turun gunung udah ada yang jemput. hehehe.

Pasar Tumpang bisa dibilang pos pertama untuk melakukan pendakian Gunung Semeru. Di daerah ini masih banyak ATM, alfa-indo mart, dan dekat dengan pasar. Pastikan semua perlengkapan dan perbendaharaan sandang pangan untuk mendaki anda disini. Sebab didaerah selanjutnya. Sudah mulai sulit mencari apapun.

Untuk pendakian ini, kami menggunakan jasa tour guide yang direkomendasikan teman saya @kakibandel . Ga cuman tour guide, mereka juga membantu saya melakukan estimasi biaya perjalanan, mempersiapkan kendaraan Jeep menuju pos pendakian gunung Semeru (Ranupane), perijinan naik gunung, perlengkapan mendaki seperti: tenda, alat masak, google mendaki, dll. Oh ya, untuk mendapatkan izin mendaki. Jangan lupa membawa fotokopi KTP, dan surat keterangan sehat. Bila anda lupa mengurus surat keterangan sehat di daerah asal anda. Di Tumpang ada banyak puskesmas yang bisa membantu anda.

DSCN2359

Proses Pemeriksaan di Puskesmas Tumpang

Setelah semua perlengkapan dan persyaratan untuk mendaki siap, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju Ranupane. Ranupane adalah desa terakhir sebelum kita melakukan pendakian. Disinilah gerbang pendakian gunung Semeru. Sebelum mendaki, kami mendapatkan pengarahan mengenai pendakian di Gunung Semeru. “Tujuan kita bukanlah puncak, tujuan kita adalah pulang ke rumah”, begitulah kata-kata terkahir dari pemateri.

Selesai briefing kami langsung tancap gas mendaki semeru. Ada beberapa alternatif dalam menentukan rute pendakian. Bagi anda yang punya stamina lebih macem Hulk, anda bisa mengambil jalur Ranupane – Kalimati – Mahameru. Karena ini adalah pendakian bersama keluarga, maka rute yang kami ambil adalah rute normal yang biasa orang lalui. Ranupane – Ranu Kumbolo – Kalimati – Mahameru.

Rute Pendakian Semeru

Referensi Rute Pendakian Semeru

Ranupane – Ranukumbolo

Kami memulai pendakian sekitar jam 5 sore. Estimasi untuk sampai ke Ranukumbolo sekitar jam 9 malam. Cukup asik mendaki di malam hari. Seenggaknya tanjakan-tanjakan yang bikin gigit jari gak kelihatan. Lumayan menaikan mental. Rute Ranupane – Ranukumbolo bisa dibilang masih normal. Ga banyak tanjakan dan turunan yang menguras energi. Tapi tetap waspada, karena ada beberapa jalan yang mepet sama jurang. Just follow the path.

Sekitar jam 10 kami sudah sampai di Ranukumbolo. Terlambat 1 jam dari prediksi tour guide kami. Maklum saja, saat di perjalanan. Ada banyak pemberhentian-pemberhentian untuk melemaskan kaki. hahaha. Sampai di Ranukumbolo, tenda sudah dibangun. Makanan sudah tersedia. Waaahhh, inilah salah satu keunggulan menggunakan jasa tour guide. diservis abis. Tinggal bawa badan ajah. hahahaha. Kami menginap di Ranukumbolo dan akan melanjutkan kembali pendakian besok pagi. Katanya pagi di Ranukumbolo sangat ciamik. Sayang sekali untuk dilewatkan.

DSCN2649

Suasana pagi di Ranukumbolo.

Ranukumbolo – Kalimati

Perjalanan dimulai dengan melewati tanjakan cinta, lalu menyelusuri kebun bunga ungu yaitu Oro-oro Ombo. Menurut prediksi sang tour guide, perjalanan ke Kalimati ditempuh dengan waktu 5 – 6 Jam. Ranukumbolo – Oro-oro Ombo – Cemoro Kandang – Jambangan – Kalimati. Jadi pastikan anda membawa persediaan air dari danau Kumbolo yang cukup karena di sepanjang perjalanan tidak sumber air.

Jam 4 sore kami sudah sampai di Kalimati. Seperti biasa, tenda dan makanan sudah tersedia. hahaha. Tour guide kami menyarankan, setelah makan kami langsung istirahat. Karena medan menuju mahameru sangat berbeda dengan yang selama ini sudah kami lalui. Kita akan dipaksa untuk mendaki tanjakan pasir yang curam selama 3 Jam.

DCIM100GOPROGOPR0576.

Pos Kalimati.

Kalimati – Mahameru

Sekitar jam 11 Malam kami dibangunkan oleh tour guide kami. Sudah saatnya mendaki puncak Mahameru. Kami diminta untuk membawa barang yang penting dan mendukung pendakian saja. Sisanya ditinggalkan di tenda. Setelah semua siap, kami memulai perjalanan kami ke puncak. Butuh waktu sekitar 4 jam mendaki. Kalimati – Arcopodo – Cemoro Tunggal (Batas Vegetasi) – Mahameru.

Mahameru

Setelah mendaki selama 5 Jam. Akhirnya sampailah kami di Mahameru. Puncak tertinggi di pulau Jawa. Sekeluarga. Wehehehe. Sebuah kepuasan tersendiri bisa kesini dengan ayah saya.

13150965_107438963003925_1998196750_n

Me and Dad vs The World.